Geologi sangat berhubungan erat dengan kegiatan lapangan, sebab itu merupakan dasar dari bidang yang kita pelajari (tapi tidak selalu lhoo). Ketika kita ke lapangan kita akan menghadapi resiko yang lebih besar daripada ketika tidak di lapangan, sebab kita berhadapan dengan alam, salah satunya adalah resiko keselamatan dan kesehatan, unutk ituah kami mahasiswa teknik geologi ITB atas nama GEA melakukan pelatihan Penolongan pertama pada Kecelakaan disingkat PPPK.

Mereka yang memberi materi berasal dari AMP (Atlas Medical Pioneer), yaitu sebuah organisasi pecinta alam dari FK Unpad yang berdiri sejak 16 April 1973. Anggotanya terdiri dari mahasiswa FK, koass, dokter, residen, konsultan dan profesor yang berjumlah lebih dari 900 orang dan tersebar di seluruh wilayah Indonesia dan mancanegara. (Gaeta, 2010 at http://www.ampfkunpad.org/about-us). Staff pengajar berjumlah belasan, beberapa dari mereka masih kuliah.

Pengajaran dilakukan dengan penjelasan secara teoris, berlangsung secara, jujur saja saya sempat tertidur pada saat itu sebab tidak tidur semalam suntuk. setelah penjelasan usai, kita dibagi menjadi 3 kelompok dan tiap kelompok dibagi kedalam 3 pos berbeda dan akan diputar, sehingga tiap keompok akan mendapat materi secara penuh. ketiga pos tersebut antaralain, pos pertolongan pertama, pos pembidaian (pembalut an) dan pos evakuasi.
di pos pertama, pertolongan pertama kita diajarkan tindakan pertolongan pertama ketika menemukan orang dalam keadaan tidak sadar dalam keadaan apapun. pada materi tersebut kita praktek dengan boneka latihan rjp yang konon berharga 3 kali harga motor sekarang (gileee…). inti dari pelatihan pada pos tersebut adalah, kita harus tenang dalam keadaan apapun dalam menolong orang.
urutan ketika menolong orang adalah :
1. Lihat situasi
yang dimaksud dengan ini adalah, ketika kita melihat korban, pastikan kalau ketika kita menolong korban, kita akan selanat, jadi kita harus melihat keadaan sekeliling, apakah memungkinkan untuk menolong, apakah berbahaya, penyebab korban tidak sadarkan diri. contoh adanya hal berbahaya yaitu : korban pingsan akibat tersengat listrik bertenaga tinggi, pastikan kalau korban tidak terkontak dengan listrik. Juga dalam hal ini jika korbannya banyak, kita harus segera memilah mana korban yang gawat, mana korban yang darurat dan mana korban yang gawat-darurat. (Ketiga hel tersebut beda lhoo). juga kita harus memastikan apabila kitamenolong korban tidak akan bertambah 1 korban lagi (maksudnya si penolong kena celaka juga), kalau menemukan korban yang sulit sekali dijangkau, lebih baik kita menunggu saja hingga bantuan datang.
2. Pastikan korban tidak sadarkan diri
ketika bertemu dengan korban, coba sadarkan korban. Cara yang bisa digunakan adalah dengan memberi rangsangan nyeri. kita bisa mencubitnya dengan keras, atau mencubit pada daerah tertentu (misal: pada tulang tajuk pedang di dada, tulang antara dahi dan hidung), bisa juga kita memanggil-manggil korban, memungkinkan juga dengan tepukan tapi pastikan tepukan yang kita lakukan tidak menyakitkan dan aman. Kalau korban tidak sadarkan diri, kita akan melanjutkan tahapan selanjutnya, kalau korban sadarkan diri, alhamdulilah, jadi kita tidak perlu melanjutkan ke tahap selanjutnya.
3. Meminta Bantuan
kita harus meminta bantuan orang lain, semakin banyak orang semakin baik, maksudnya kita bisa melakukan evakuasi dengan lebih baik dengan banyak orang. selain itu, ketika kita menolong korban, orang yang kita minta batuannya bisa memanggil tenaga ahli unutk menangani korban.
4. Amankan Korban
pindahkan korban ke posisi yang aman, datar dan keras. maksudnya, periksa sekeliling korban apakah ada hewan buas, atau bau gas / kebakaran atau banjir, dll. pokoknya pindahkan ke tempat yang aman.
5. Periksa pernafasan
kita harus memeriksa pernafasan dengan mendengarkan apakah ada pernafasan atau tidak, tapi kita harus melakukan ekstesi saluran pernafasan terlebih dahulu dengan cara menekan bagian bawah dagu ke katas dan menekan dahi ke arah bawah, dengan tujuan agar seluran nafas terbuka. Apabila tidak ada atau terdengan nafas tapi seperti tersedak, kita bisa memeriksa apakah di dalam mulutnya ada benda yang menyumbat apa tidak, korek dengan tangan untuk memastikannya.

6. Lakukan Pernafasan Buatan
kegiatan ini harus dilakukan untuk memancing pernafasan korban dengan cara menghembuskan nafas dari mulut ke mulut, keadaan korban harus dalam keadaan ekstensi agar nafas yang dihembus tidak masuk perut, hal ini berbahaya, sebab dapat mengakibatkan muntah dan hidung korban harus di tutup agar udara tidak keluar lewat hidung. Setelah dilakukan peng hembusan, hidung korban dibuka agar udara dapat keluar lewat hidung. Ulangi hal ini sebanyak 2 kali, lalu lanjutkan ke tahap berikutnya.
7. periksa Pernafasan dan Sirkulasi darah
periksa kembali keadaan korban apakah sudah dapat bernafas dengan normal atau belum, kali ini disertai dengan memeriksa keadaan nadi di leher apakah ada peredaran darah apa tidak. Apabila kedua hal tersebut tidak ada atau hanya tidak ada peredaran darah saja, maka kita harus melakukan RJP. Apabila keadaan korban sudah stabil, maka lakukan uji kesadaran dan periksa keadaan korban tiap 5 menit, apakah membaik apa tidak sambil menunggu bantuan medik datang.
8. Lakukan RJP sebanyak 5 Set
RJP merupakan singkatan dari Resustitasi Jantung dan Paru-peru. Dilakukan dengan cara menekan bagian dada dengan kedua tangan, namun keadaan tangan dan tubuh kita harus benar dan posisi kita meletakan tangan juga harus benar. Posisi yang benar adalah, dengan meletakan telapak kiri berjarak 2 jari dari ujung tulang taju pedang korban. kemudain tangan kiri dikunci dengan tangan kanan, dan kita dorong tubuh korban, tubuh kita harus tegak lurus dengan posisi dada korban, posisi tangan harus lurus sehingga kita menggunakan bobot tubuh unutk mendorong. kita mendorong tubuh korban, jangan terlalu keras, usahan kita mendorong dada korban sebesar 1/3 bagian dati tebal tubuh korban.
lakukan RJP sebanyak 5 set. Satu set-nya terdiri dari 30 x RJP dan 2 kali nafas buatan. RJP harus dilakukan dengan cepat. metode ini lebih baik dilakukan dengan 2 orang, jadi seletah 1 orang melakukan RJP orang yang satu lagi melakukan pernafasan buatan, sehingga waktu menjadi efisien.
9. Perika pernafasan dan sirkulasi dan *lakukan Pernafan Buatan
pemeriksaan yang sama dengan tahap nomor 7. Apabila korban masih belum bernafas namun sudah ada sirkulasi darah, maka kita lakukan pernafasan buatan sebanyak 12 kali. Apabila tidak ditemukan sirkulasi darah maka kita lakukan lagi tahap 8. Tahap 8 dan 9 dapat dilakukan berkali-kali. Apabila pernafasan dan sirkulasi darah sudah ada, maka korban dinyatakan dalam keadaan stabil.
10. Menuju kesadaran
apabila korban sudah stabil, maka kita harus menemaninya hingga bantuan datang dan sesekali memerika keadaan korban.
itulah hal yang diajarkan pada kami, (mungkin dalam blog ini masih ada salah-salah, maklumin saja lah). Kegiatan ini harus dilakukan dengan cepat, sebab apabila terlambat akan memungkinkan terjadinya cedera di otak, sebab apabila otak tidak mendapat supply udara selama 3 menit, sel-sel otak akan rusak.
masih ada 2 pos lagi yang saya kunjungi, namun untuk sementara sampai disini dulu, nanti di sambung lagi kalau sempat.hehe
semoga bermanfaat.
Tags: amp, gea, geologi, itb, korban, medik, nafas buatan, pernafasan buatan, pertolongan pertama, pppk, rjp